Beranda Contoh MC Kata Bijak Sambutan Tata Bahasa Puisi Sastra

Islam dan Fanatisme Kesukuan || Ceramah, Kultum

Islam datang ke muka bumi ini dengan ajaran-ajaran Alah swt. yang mengarahkan manusia seluruhnya kepada kehidupan yang ideal, yaitu kehidupan yang paling sempurna, sejauh yang dapat dicapai oleh manusia di muka bumi ini, baik dalam bidang akidah, ibadat, maupun dalam kehidupan sosial,demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunai dan di akhirat.

Ketika agama Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. itu untuk pertama kalinya datang di Makkah, jazirah Arab, abad VI M, maka banyak aspek kehidupan masyarakat Arab ketika itu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam pembawa rahmatan lil alamin itu. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah faham syirik dalam bidang akidah dan ibadat, pandangan hidup yang materialistis, perbudakan dan fanatisme kesukuan dalam bidang sosial.

Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah saw.  telah berhasil menumpas penyakit-penyakit syirik, pandangan hidup materialistik, perebudakan, dan fanatsime kesusukan, serta penyakit-penyakit kemasyarakatan lainnya dalam waktu yang relatif singkat, berkat dakwahnya yang berlandaskan tauhid dan keteladanan akhlaqul karimah.

Penyakit sosial berupa fanatisme kesukuan, dalam bahasa Arabnya dikenal dengan istilah ashabiyyah jahiliyyah. Akhir-akhir ini, ‘ashabiyyah jahiliiyah atau fanatisme kesukuan kembali muncul dan memerlukan penangan serius dari semua fihak. Fanatisme kesukuan ditandai oleh tiga hal. Pertama; seseorang merasa berkewajiban untuk membela warga kelompoknya atau sukunya, sekalipun warga yang bersangkutan berada di pihak yang salah. Warga yang bersangkutan merasa berhak mendapat bantuan dari warga yang lain, walaupun ia telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran dan rasa keadilan. Kedua, seseorang merasa berkewajiban menolong sesama anggota sukunya  yang sedan gmenalami kesulitan atau menghadapi suatu masalah, dengan cara apapun, sekalipun cara yang ditempuhnya bertentngan dengna peraturan dan hukum yang berlaku atau illegal. Bahkan ‘ashabiyyah pada zaman jahiliyyah dahulu seringkali membuat seseorang merasa bangga yang berlebihan dengan kelompok atau sukunya, sehingga memandang rendah kelompok atau suku yang lain.

Rasulullah saw. melihat bahwa ‘ashabiyyah jahiliyyah atau fanatisme kesukuan telah embawa akibat yang buruk dan kerugian yang besar bagi masyarakat luas. Karena itu beliau sejak awal berketatapan hati untuk memberantasnya, sebagaimana sabdanya antara lain:

إيآكم ودعوى الجاهلية
“Buanglah jauh-jauh fanatisme jahiliyyah”.
ليس منا من دعا إلى عصبية
“Orang yang suka menghembus-hembuskan fanatisme jahiliyyah bukanlah ia dari golongan kita, kaum muslimin”.

Fanatisme kesukuan dalam sejarahnya ternyata telah mendatangkan banyak bencana dan kerugian moral maupun material di kalangan warga masyarakat jazirah Arab, yang ketika itu memang teridir dari banyak kabilah atau suku-suku. Kerugian-kerugian tersebut antara lain adalah:

Pertama,
Ashabiyyah jahiliyyah telah banyak menimbulkan pertentngan, pertengkaran dan bentrokan fisik antar kelompok kecil maupun antar kelompok besar yang disebut kabilah. Bahkan, tidak jarang terjdi peperangan antara satu kabilan dengan kabilah tetangganya, gara-gara sebab yang sepele, dan setelah diteliti ternyata akar permasalahannya bersuber dari ashabiyyah jahiliyyah itu.

Kedua, 
Ashabiyyah jahiliyah telah menimbulkan persekongkolan dalam kezhaliman yang acapkali menimbulkan lenyapnya hak-hak pihak lain dan timbulnya tindakan sewenang-wenang dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah.

Ketiga, 
Ashabiyyah jahiliyyah telah mengakibatkan meluasnya tindakan-tindakan kriminal semisal pembunuhan, pencurian, penggelapan milik orang lain, dan teror yang pada gilirannyaakan emnumbuh suburkan tindakan-tindakan balas dendam dari pihak yang sebelumnya merasa dirugikan.

Keempat, 
ashabiyyah jahiliyah telah menggoyahkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan di kalangan warga masyarakat azirah Arab secsara keseluruhan. Hal ini pada gilirannya mengakibatkan pra penguasa setempat tidak berwibawa dan tidak berdaya dalam menegakkan peraturan dan melaksanakan undang-undang. Akibat paling buruk adalah merluasnya  anarkisem di masyarakat luas.

Bagaimana upaya yang dilakukan Rasulullah saw untuk memberantas ‘ashabiyyah jahiliyyah pada masanya, kiranya dapat dijadikan contoh dalam membeantas ‘ashabiyyah jahiliyyah paa abad 21 ini.
Rasulullah mengkampanyekan prinsip-prinsip ajaran Islam tentang persamaan dan persaudaraan yang lebih luas, yaitu persaudaraan Islam(ukhuwwah islamiyyah), bahkan persaudaraan sesama  ummat manusia, tanpa membedakan warna kulit, jenis kelamin, suku bangsa dan daerah asal. Ketika seorang sahabat bernama Abu Dzar al-Ghihfari memanggil seseorang: “wahai orang hitam,” Nabi saw mendadak berubah raut mukanya seraya berkata kepada Abu Dzar: “Abu Dzar, ternyata engkau masih memiliki sifat jahiliyyah”.

Langkah-langkah lain dengan pendekatan sosial yang kongkrit pun dilakukan oleh Rasulullah dalam rangka memberantas ashbiyyah ini. Misalnya melalui pemberian zakat, shadaqah dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang dilakukan kaum Muslimin yang mampu kepada kaum muslimin yang tidak mampu dan memerlukan bantuan. Dengan demikian, warga masyarakat semuanya merasa diperlakukan secara adil.

Keberhasilan Rasulullah dalam mempersatukan kabilah-kabilah Arab dalam persaudaraan seagama dan kemanusiaan merupakan nikmat yang tiada taranya dari Allah swt., sebagaimana dalam firman-Nya:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا ، واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم إعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا ، وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها . كذلك يبين الله لكم آياته لعلكم تهتدون (آل عمران : 103)
“Berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (pada masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu kam karena nikmat Allah menjadi orang-orang yang bersaudara, dan kamu pernah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Dengan demikian, kaum muslimin menjadi ummat yang bersatu, dan bukan saja pandai memberi perlindungan kepada sesama muslim, tetapu juga kepada non-muslim yang ingin bekerja sama dengan baik dengan kaum Muslimin, seperti dalam sabda Rasulullah saw.:
المسلمون تتكفأ دماؤهم ، ويسعى بذمتهم أدناهم , وهم يد على من سواهم
“Kaum Muslimin sama antara seorang dengan yang lain dan bahkan mereka memberikan perlindungan keamanan kepada pihak non Muslim sekalipun. Kaum Muslimin itu adalah merupakan satu barisan yang kokoh dalam menghadapi pihak lain”.

Karena memiliki kelebihan seperti itu, maka Allah memuji ummat Islam, dalam firman-Nya:
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله (آل عمران : 110)
“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”.

Demikianlah, ashabiyyah jahiliyyah yang sempat meluas pada zaman jahiliyyah dan awal Islam, tetapi telah berhasil dikikis habis oleh Rasulullah saw. 14 abad yang lalu. Kini, ashabiyyah ini  mucul kembali pada melinium II dewasa ini di banyak tempat, di kota dan di desa, di kalangan masyarakt muslim maupun bukan muslim. Dengan berkaca kepada apa yang telah dilakuan oleh Rasulullah saw. bersama sahabatnya dahulu dalam menanggulangi wabah ashabiyyah atau fanatisme kesukuan tersebut, mari kita bersama-sama menanggulangi penyakit sosial ini. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah swt.  lahir batin dalam upaya menciptakan masyarakat yang dipenuhi semangat ukhuwwah islamiyah yang mampu membuat seluruh kaum Muslimin menjadi satu keluarga besar yang kokoh, kuat, dan penuh toleransi pula terhadap ummat lain. Amin.

Jagalah Lidahmu || Materi Khutbah, Ceramah, kultum


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ للهٍ الذى نَزَّلَ اْلفُرْقَانَ عَلَى عِبَادِهِ لِيَكُوْنَ لِلْعَالَِميْنَ نَذِيْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لآ اِلهَ الله وَحْدَهُ لآشَرِيْكَ لَهُ الذِى خَلَقَ اْلِأنْسَانَ فىِ أَحْسَنِ تَقْوِيمْ. وأَشهد أن محمدا عبدُه ورسولُه اْلهَادِى الى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ مَنْ سَلَكَهُ فَازَ بِالعِزِّ وَالنَّعِيْمِ اْلمُقِيْمِ ومن حَادَ عَنْهُ رُمِىَ بِهِ فِى اْلجَحِيْمِ. والصلاةُ والسلامُ على سيِّدِ اْلخَلْقِ مُحمدِابْنِ عَبْدِاللهِ وعلى أله وأصحابه الذين جَاهَدُوْا فى اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ فَكَانُوْا أَحِقَّاءَ بِالنَّعِيْمِ اْلمُقِيْمِ. أمابعد:
Saudara-Saudara kaum muslimin rahimakumullah
Ketaqwaan harus selalu menjadi cermin utama kita dalam meniti kehidupan. Menjadi simbol sejati dalam beraktivitas sehari-hari bahkan rasa taqwa itu hendaknya mampu membaluri segenap tingka laku kita, sehingga kita benar-benar mempunyai aklak yang mahmuda (terpuji) yang merupakan cermin dari pribadi muttaqin tadi.

Jika ingin menjadikan diri kita sebagai muttaqin sejati, maka satu hal yang perlu kita lakukan adalah menjaga salah satu anggota badan yang kelihatannya kecil, namun apabila tidak sanggup menjaganya, maka akan menimbulakan bencana yang sangat dahsyat. Anggota badan yang dimaksut adalah lidah. Lidah memang tidak bertulang tetapi sedikit saja salah dalam berbicara, maka akibatnya menjadi sangat fatal. Bisa terjadi perttumpahan darah, pertengkaran atau mungkin tidak saling tegur sapa. Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh pepatah Arab:
سلامة الإنسان فى حفظ اللسان               
“Keselamatan seseorang, tergantung pada bagaimana ia menjaga lidahnya”.

Sedemikian pentingnya menjaga lidah sehingga beliau bersabda:
 كُفَّ عَليك هذا, وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فى النارِ على وُجُوْهِهِمْ أو قال على مَنَاخِرِهِمْ إلَّاحَصَائِدُ أَلْسِنَتَهُمْ  
"Peliharahlah lidahmu karena manunusia nanti akan dicampakkan ke dalam neraka entah mukanya atau atau batang hidungnya yang tercampak terlebih dahulu, itu semua terjadi karena tidak bisa menjaga lidahnya".

Dalam hadis lain Rasulullah juga telah memberi peringatakan bahwa hendaknya anggota badan yang bernama lidah selalu di jaga, dalam artian bahwa tidak digunakan berbira kotoar, mengumpat, menggunjing, dan lain-lain. Tetapi hendaknya lidah digunakan berkata jujur, kalau tidak bisa, lebih baik diam. sebagaimana sabda Raulullah:
مَنْ كان يُؤْمِنُ بالله واليومِ الأخرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أولِيَصْمُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah berkata yang baik (jujur) atau diam".
Inilah sabda Rasulullah yang merupakan ilustrasi bahwa keimanan seseorang dapat diukur dari perkataan baik dan buruknya.
Imam al-Gazali dalam kitabnya Ihya Ulum al-Din,  menulis bahaya-bahaya lidah kalau tidak bisa menjaganya.
Pertama, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, selau berkata yang tidak ada guna dan mamfaat. Juga memunculkan perkataan yang ngelantur, tiada ujung dan pangkalnya, sehingga potensial melahirkan fitnah. Permusuhan dan pertengkaran. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:
مِنْ حُسْنِ اْلِإسْلَاِم اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيْهِ 
"Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak patut dilakukan."
Kedua, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, akan suka membicarakan hal-hal yang erotis, kemaksiatan, penjudian, perzinahan dan lain-lain. 
Ketiga, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, selalu menjadi pemicu pertengkaran. Belum tahu persoalan yang sebenarnya tiba-tiba saja emosi menguasai jiwanya. Kemudian lahirlah pertengkaran, pertikaian dan lain-lain. Olehnya itu Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَبْغَضُ  الرِّجَالِ إلى الله اْلأَلَدُّاْلِخصَامِ
"Orang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang suka bertengar dan suka saling menyerang."
Keempat, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, akan selalu berbicara dusta. Sebagai buah dari tidak terkontrolnya agama dan akal sehat. Dan jika orang sudah terbiasa berkata dusta, maka tidak ada alamt yang dialamtkan kepadanya kecuali tanda munafiq. Sebab Rasulullah telah menyatakan tanda-tanda orang munafiq, adalah jika berbicara, ia selalu dusta.

Kelima, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, akan melahirkan orang-orang suka melanggar janji, padahal janji harus selau ditepati. Janji adalah hutang (الوعد دين)  siapa yang berjanji ia harus menepati janjinya, baik janjinya kepada teman, saudara, partner bisnis, lebih-lebih janji kepada Allah.
Itulah beberapa hal yang menjadi bahaya lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, semoga dengan ayat dan hadis ini, kita dapat berupaya untuk lebih meningkatkan kualitas taqwa dengan menjaga lidah yang dapat menimbulakan bahaya yang dahsyat. Agar kita bisa hidup dengan damai dan tentram.
والسلام

Al-Qur’an dalam Kehidupan masa kini || Khutbah Jum'at

Al-Qur’an adalah kitab suci yang terakhir dan tersempurna, diwahyukan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. Sebagai petunjuk untuk keselamatan hidup ummat manusia di dunia dan akhirat. Wahyu tersebut diturunkan Allah ke dalam hati yang suci. Allah berfirman:

تزل به روح الأمين . على قلبك لتكون من المنذرين.
“Al-Qur’an di bawa oleh Ruhul Amin ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”. (QS. Al-Syu’ara, 26:193-4).

Ayat ini mempunyai makna dan arti bahwa terjadinya hubungan atau komunikasi antara Allah dan manusia adalah melalui hati yang suci dan bersih, dan dari hati yang suci itu pulalah orang dapat menyampaikan dan memberikan peringatan kepada orang lain. Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling belakangan diturunkan dan tidak ada satu kitab suci pun yang paling terkenal dalam sejarah dan paling besar pengaruhnya dalam kehidupan manusia, kecuali kitab suci al-Qur’an. Karena itu, bagi seorang muslim, pemahaman terhadap al-Qur’an meruapakan suatu kebutuhan yang mendesak untuk menjadi bimbingan dalam kehidupan kita.

Bafi seorang sosiolog misalnya, pemahaman terhadap al-Qur’an merupakan suatu hal yang penting mengingat jejak yang telah ditimbulkan Al-Qur’an sepanjang sejarah masyarakat manusia dan pengaruhnya begitu besar terhadap kehidupan ummat manusia. Sampai saat ini, al-Qur’an sudah dipahami dari berbagai bidang ilmu. Walaupun demikian, kebutuhan seorang muslim terhadap al-Qur’an dan pemahamannya adalah karena Al-Qur’an merupakan prinsip dasar agama, prinsip iman dan pemikiran yang dapat memberi arti, dorongan, kesucian dan semangat dalam hidup. Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan yang paling suci bagi orang-orang yang mau hidup suci.

Karena al-Qur’an adalah petunjuk untuk keselamatan hidup kita dunia dan akhirat, maka kita perlu merasakan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada kita dan pada saat ini. Ini bermakna bahwa al-Qur’an benar-benar memberi petunjuk buat kita sekarang ini. Jadi, kita benar-benar memfungsikan al-Qur’an sebagai kebutuhan yang sangat mendesak untuk saat ini. Al-Qur’an hanya akan menjadi mainan hidup saja jika tidak diterima dengan hati yang suci.

يقولون بأفواههم ما ليس فى قلوبهم
“Mereka mengatakan dengan bibir  apa yang tiada dalam hati mereka” (QS. Ali Imran, 3:167)

Jadi al-Qur’an akan dapat menjadi petunjuk, jika diterima dengan hati yang suci:
ومن يؤمن بالله يهد قلبه 
“Barang siapa beriman kepada Allah, Ia akan memberi hidayah pada hatinya”. (QS. Al-Thaghabun, 64:11)
Menurut ajaran al-Qur’an, keberadaan iman, taqwa, dan hidayah ditempatkan Allah di hati. Demikian juga puncak pengetahuan tertinggi, yaitu wahyu, juga ditempatkan dalam hati. Itu sebabnya semua kebaikan mucul dari hati yang suci dan tulus, seperti cinta, rahmah, toleran, ketenangan, kedamaian, kesucian, dan semua sifat terpuji. Sebaliknya, pada hati itu pula tersimpannya kekafiran, kebodohan, kebencian, kesombongan, kekerasan, kedengkian, kegoncangan, kegelisahan, ketakutan dan semua sifat tercela. Sifat dan perbuatan terpuji muncul dari hati yang sehat (qalb salim), sedangkan sifat dan perbuatan tercela mucul dari hati yang mengidap penyakit.

فى قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون
“Dalam hati mereka terdapat penyakit lalu Allah menambahkan penyakit itu, dan bagi mereka siksa yang pedih atas apa yang mereka dustakan” (QS. Al-Baqarah, 2;10)

Dari penyakit-penyakit hati inilah timbul kerusakan hidup, kerusakan bangsa dan negara. Untuk pengobatannya, tidak ada jalan, kecuali kembali kepada al-Qur’an dengan hati yang tulus dan suci. Al-Qur’an adalah obat untuk kehidupan ini, karena itu kembalilah kepada al-Qur’an, jika ingin hidup tenang, damai dan aman. (Zuhri).

Gincu, Garam dan Susu

Ketiga benda tersebut di atas sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, khususnya bagi kaum perempuan. Gincu, sekarang orang menyebutnya lipstik, adalah salah satu jenis kosmetika yang dipergunakan oleh sebahagian kaum perempuan sebagai penghias bibir. Warnanya umumnya merah, atau warna lain yang lebih mencolok dan gampang terlihat. Menurut penuturan perempuan yang sering memakai gincu, rasanya tidak ada. Gincu hanya menempel di bibir pemakainya, tidak mempunyai rasa. Walaupun nampak jelas ketika dipakai akan tetapi sipemakainya sendiri justru tidak dapat melihat bagaimana gincu itu di bibirnya ketika dipandang orang.

Garam, merupakan pemberi rasa asin terhadap makanan, hasil olahan dari air laut. Harganya murah, akan tetapi sangat menentukan lezat-tidaknya suatu hidangan. Garam ketika digunakan larut bersama makanan. Rasa asinnya baru terasa apabila makanan yang dibumbuhi garam tersebut dicicipi.

Perempuan ketika berdandan boleh tidak memakai gincu, akan tetapi setiap orang kalau memasak  harus  membumbuhi masakannya dengan garam. Ringkasnya gincu sebenarnya hanya pelengkap, sedangkan garam penentu rasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang di antara kita ada yang berbuat dan melakukan aktifitasnya mengambil filsofi dari gincu dan garam! Yang berfilosofi garam, mengutamakan dan mengedepankan aspek formalitas dan popularitas dalam setiap aktifitasnya. Semua yang dia lakukan baik secara pribadi maupun kolektif harus dapat dilihat dan disaksikan oleh orang banyak sekedar untuk memperoleh pengakuan dan atau pujian, kendatipun kemudian hanya sebatas show, tidak dapat memberi manfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang yang melihatnya. Yang penting apa yang dia lakukan dapat dilihat dan disaksikan orang! Celakanya, banyak orang yang justru terbuai oleh warna-warna ‘gincu’ yang ditonjolkan oleh orang.

Sebaliknya, hanya sedikit di antara kita yang rela memegang filosofi garam. Orang yang memegang filosofi garam, dalam berbuat dan beraktifitas mementingkan manfaat apa yang dilakukan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Berbuat bagi orang tipe ini tidak harus diketahui oleh orang lain,  bahkan kalau perlu merahasiakan identitas dalam berbuat baik, tetapi yang penting baginya ialah azaz manfaat pada setiap perbuatannya.

Dalam bahasa agama Islam, orang yang berfilosofi gincu biasa disebut riya’, yaitu sikap mental pamer dan ingin dipuji. Orang seperti ini sangat berbahaya, berbuat hanya menginginkan popularitas dan mengabaikan manfaat dari apa yang diperbuatnya. Allah swt. Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa sikap mental riya merupakan salah satu bentuk syirik:

   "Sesungguhnya yang amat kutakuti dari segala hal atas kalian ialah syirik kecil. Para sahabat bertanya. “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Riya. Allah azza wa jalla akan berkata kepada orang-orang yang riya kelak di hari kiamat: Pergilah kamu sekalian kepada apa yang kamu jadikan bahan riya di dunia. Lihatlah apa yang kamu semua memperoleh balasan dari mereka yang kepadanya kamu memamerkan amalanmu?. Hadis riwayat Ahmad dan al-Baihaki.

Orang yang berfilosofi garam, dalam istilah agama Islam disebut ikhlas, yaitu seseorang yang senantiasa berbuat berangkat dari motif yang lurus tanpa mengharapkan imbalan dari hasil perbuatannya. Biasanya orang tipe ini ketika berbuat kebajikan selalu berupaya menyembunyikan perbuatannya, paling tidak mereka tidak menonjolkan perbuatannya itu, namu  perbuatan tersebut memberi manfaat baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat.

Agama kita menginginkan agar umatnya berperilaku sebagaimana filosofi garam, yaitu tidak menampakkan diri dalam setiap aktifitasnya, tetapi yang lebih penting manfaatnya. Bahkan penilaian Allah terhadap perbuatan kita bukan pada apa yang tampak, melainkan motif yang ada dibalik perbuatan kita itu. Nabi Muhammad saw. dalam hadisnya meyebtukan:

Sesungguhnya Allah swt. tidak menilai terhadap fisik dan penampilanmu, melainkan kepada hati (niat) dan perbuatanmu. Hadis riwayat Imam Muslim.

Dari hadis ini nampak jelas bahwa Allah tidak menilai aspek formalitas pada perbuatan kita, melainkan motif dasar munculnya perbuatan tersebut serta manfaat perbuatan tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah muak dengan penampilan orang-orang dan sekelompok orang yang sepintas bagai pahlawan, namun kepahlawanannya tidak lebih dari penampilan gincu; terlalu banyak teori, konsep dan program yang dikemukakan sekedar untuk menarik simpati publik namun tidak ada realisasi. Orang berperilaku seperti ini tidak menyadari bahwa formalisasi dan publikasi yang berlebihan tentang ‘kebajikan’ seseorang justru mengaburkan dan menghilangkan rasa (manfaat) dari suatu perbuatan. Hanya sesaat dan tidak memberi rasa apa-apa, dan hanya sedikit orang yang mau berbuat kebajikan tanpa diketahui oleh orang lain.
Filosofi Susu

Susu, untuk kelompok elit (Ekonominya terliLIT, atau Ekonominya suLIT) masih dipandang sebagai barang elit (mewah). Warnanya putih. Biasanya dicampurkan bersama minuman atau makanan ekstra. Di minuman atau makanan mana saja yang diberi susu, akan tampak warna dan rasa susu itu, sekalipun sedikit.

Susu mungkin salah satu benda yang mewakili sikap pertengahan antara filosofi gincu dan filosofi garam;  semua orang menyebut susu itu enak! Makanan dan minuman kalau diberi susu rasanya makin nikmat! Kalau bercampur dengan makanan atau jenis minuman ia tidak kehilangan identitasnya, melainkan turut mempengaruhi warna makanan/minuman di mana ia ditambahkan. Itulah susu, selain keberadaannya bisa nampak, juga dapat menambah rasa!

Alangkah indahnya hidup ini, apabila umat Islam bisa bermental susu; bisa memperlezat kehidupan, mempengaruhi masyarakat dengan warna dan rasanya, minimal mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tanpa harus kehilangan identitas, dan yang paling penting keberadaannya benar-benar dirasakan! 

Al-Qur’an tidak menafikan bahwa mental susu itu memiliki pengaruh positif, yaitu agar dapat diikuti oleh orang lain sekaligus mengajak orang lain gemar melakukan sebagaimana yang telah dilakukannya, walaupun dengan memperlihatkan amalan itu dapat mendekatkan kepada bahaya riya. Oleh sebab itu, Allah swt. memberi pujian terhadap mental garam dan mental susu, dengan mendahulukan mental susu dalam firman-Nya:

Jikalau kamu menampakkan sedekah-sedekahmua, maka itulah yang terbaik. Tetapi jika kamu semua menyembunyikannya dan kamu berikan kepada fakir miskin, maka itu lebih baik bagimu. QS. al-Baqarah (2): 271.

Agama Islam adalah agama kemanusiaan. Oleh karena itu, semua ketentuan agama yang berbentuk perintah dan larangan semuanya bermuara pada kepentingan manusia. Dengan demikian semua perbuatan kebajikan pun harus dapat memberi manfaat kepada manusia dan bagi kepentingan kemanusiaan. Kita bisa berbuat atas dasar agama tanpa harus memamerkan apatah lagi mempublikasikan perbuatan baik tersebut. Perbuatan kita pun bisa dirasakan oleh orang lain tanpa harus mengetahui siapa yang telah melakukannya.

Memang ada hal-hal tertentu yang memungkinkan seseorang untuk memperlihatkan (mempublikasikan) perbuatannya, yaitu untuk menjadi contoh dan toladan bagi orang yang menyaksikannya. Bila suatu ketika kita berbuat memperlihatkan perbuatan kita kepada orang lain dengan niat agar menjadi contoh, maka kita telah membuat satu sunnah (tradisi kebaikan). Yang demikian lebih baik ketimbang merahasiakannya. Sehubungan dengan perbuatan kebajikan yang diperlihatkan kepada orang lain dengan maksud agar dijadikan contoh, Nabi Muhammad saw. mengatakan:

Barang siapa yang melakukan suatu sunnah (tradisi perbuatan kebaikan atau keburukan), maka ia akan memperoleh ganjaran (kebaikan atau keburukannya) dan (ganjaan kebaikan atau keburukan) bagi setiap orang yang mengikuti tradisi yang telah diperlihatkannya. Hadis riwayat Muslim.
Wallahu A’lam bi al-Sawâb.

Dimensi Tauhid dalam Perspektif Islam

Manusia terdiri dari dua dimensi, yaitu jasmani dan ruhani, raga dan jiwa, atau badan dan ruh. Kedua unsur tersebut memiliki peranan yang sangat penting bagi keberadaan dan kehidupan manusia. Namun demikian, dalam tasawuf ruh mempunyai kelebihan tersendiri dibanding dengan badan, karena ruh diyakini memiliki unsur ketuhanan.  Menurut para sufi, materi ruh manusia berasal dari ruh Tuhan sendiri, sesuai dengan firman Allah yang terdapat pada QS. al-¦ijr [15]: 29, sebagai berikut:

فإذا سويته ونفهت فيه من روحى .....
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku…” (QS. al-¦ijr [15]: 29).

Pada awal dari eksistensinya, ruh berada di alam azali, yaitu suatu alam yang merupakan awal keberadaan.  Pada saat ini ruh berada bersama dengan Tuhan Sang Pencipta dengan segala sifat-sifat kebaikan-Nya.  Sebagai Yang Maha Pencipta, Ia juga bersifat Maha Suci, yang artinya tiada sesuatu yang merupakan noda ada pada-Nya.  Sementara itu, karena bersama dengan Tuhan Yang Maha Suci, maka mestilah ruh juga berada dalam kesucian.  Artinya bahwa ketika itu ruh hanya mengenal Tuhan dan sifat-sifat yang dimiliki.  Tidak ada sesuatu yang diketahui selain Tuhan.  Sehingga seluruh perhatian ruh hanya tertuju kepada Tuhan dan tidak kepada yang lainnya.  Inilah kebahagiaan, kedamaian, dan kenikmatan yang dirasakannya ketika berada bersama dengan Tuhan Yang Maha Suci.  Pada fase ini semua ruh mengakui dan telah bersaksi bahwa hanya Allah semata yang menjadi Tuhan mereka.  Tak satupun dari ruh-ruh itu yang mengatakan adanya Tuhan yang lain atau yang mengakui dirinya tak bertuhan.  Semua sepakat bahwa Allah adalah Tuhan mereka Yang Esa.  Ikrar para ruh itu telah diabadikan dalam al-Qur’an pada surah al-A`r±f [7]: 172, sebagai berikut:

...وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا ....
 "… dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?  Mereka menjawab: Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS. al-A`rof [7]: 172).

Pada saat tahap selanjutnya dari keberadaan yang dilalui tiba, ruh harus meninggalkan alam azali untuk ditiupkan ke dalam janin yang berada dalam rahim atau kandungan seorang wanita.  Kemudian, setelah sampai waktunya, lahirlah ia ke alam dunia yang merupakan fase ketiga dari kehidupannya.  Inilah fase terpenting dari keberadaannya.  Sebab pada tahap inilah, ruh akan ditentukan bagaimana kehidupan yang akan dialami pada fase-fase yang akan datang.  Di alam dunia ini, ruh yang telah masuk ke dalam badan manusia mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri dengan memotifasi jasmani dalam melakukan tindakan-tindakan yang terpuji agar ia mendapat pahala dari kebaikannya, atau sebaliknya justru berbuat yang tidak baik dan melanggar aturan Ilahi, sehingga kelak akan mendapat balasan yang setimpal, baik pada waktu berada di dunia maupun di alam selanjutnya.

Sejak keberadaannya di alam dunia, ruh mulai mengenal materi-materi di sekitarnya selain Tuhan.  Pada pengenalannya itu, ia mengetahui bahwa sebagian dari benda-benda tersebut dapat memberikan kenikmatan atau kesenangan pada jasmaninya.  Pada tahap ini semua ruh kemungkinan besar akan terpesona dan terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat keduniawian tersebut, sehingga ia terperosok untuk hanya memikirkan dan menikmati kesenangan duniawi.  Hal ini pada giliran selanjutnya akan menyebabkan ruh melalaikan Tuhannya dan perhatiannya hanya terpusat pada materi yang membawa kesenangan jasmani.  Kondisi seperti ini, dalam ajaran tasawuf disebut ruh yang telah terkotori oleh kenikmatan duniawi.  Keadaan tersebut akan mengakibatkan ia berada jauh dari Tuhan Yang Maha Suci.  Ia tidak lagi dapat mendekatkan diri disebabkan kotoran duniawi yang menjadi perhatiannya.

Ketika seseorang akan memeluk Islam, secara sadar ia diwajibkan mengucapkan ikrar syahadat.  Pada dasarnya syahadat yang pertama (Syahadat Tauhid) yang berisi kesaksian kepada Tuhan Yang Esa adalah untuk mengingatkan kembali pada janji yang telah dibuat pada masa azali.  Syahadat itu seolah-olah merupakan suatu teguran yang bila diungkap akan menjadi pertanyaan mengapa yang telah berjanji untuk bertuhan hanya kepada Allah, kini ia dapat mengakui pula selain Dia sebagai tujuan ibadah, tempat minta tolong, tempat mencari berkah, dan lain sebagainya.  Selain itu, ikrar tersebut juga untuk mengingatkan ruh manusia bahwa ia pada masa itu adalah dalam keadaan suci, yaitu hanya kepada Tuhan semata pusat perhatiannya tertuju, dan bukannya kepada kesenangan serta kenikmatan duniawi seperti saat berada di dunia, yang telah membawanya lupa akan asal dan tempat kembali kelak.  Dengan Syahadat Tauhid, ruh telah diajak untuk kembali kepada keadaan semula, yaitu dalam kesucian.  Ikrar tersebut dimaksudkan untuk memotivasi ruh agai ia dapat memusatkan kembali perhatiannya kepada Tuhan, dan tidak hanya tertuju kepada benda-benda duniawi yang tidak langgeng.

Syahadat Tauhid juga merupakan peringatan bahwa tujuan jangka panjang dari kehidupan manusia adalah bersatu bersama dengan Tuhan.  Dalam teori sufisme kebersamaan dengan Allah itu dapat mengambil bentuk Ittihad dan Hulul.  Yaitu bersatunya ruh bersama dengan Tuhan. Peristiwa ini merupakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi ruh.  Dalam suasana demikian, ruh sebenarnya kembali kepada keadaan semula seperti ketika berada pada alam azali dahulu.

Ruh akan dapat berada dalam suasana Ittihad atau Hulul, bila ia dapat mensucikan dirinya dari segala kotoran duniawi terlebih dahulu.  Ia harus memisahkan dirinya dari segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang bersifat materi.  Yang ada dalam perhatiannya hanya Tuhan, dan Ia semata yang menjadi pusat tujuan, sehingga yang lain terasa seolah menjadi tidak ada.  Inilah tingkat atau suasana pembersihan jiwa, atau yang dikenal dengan tazkiyatun nafs.  Tuhan itu Maha Suci.  Tidak mungkin sesuatu dapat berada bersama dengan-Nya, kecuali bila ia dalam keadaan suci pula.  Karena untuk bersama dengan Allah, ruh mesti mensucikan diri terlebih dahulu dari hal-hal yang tidak baik dan kotoran duniawi.  Bila upaya ini berhasil, maka ruh manusia akan menjadi bersih, suci, dan berada dalam ketenangan dan kedamaian.  Ketika itu layaklah ruh untuk kembali kepada Tuhan, sebagaimana ajakan yang diungkapkan dalam QS. al-Fajr [89]: 27-28, sebagai  berikut:

ياأيتها النفس المطمئنة.  ارجعى إلى ربك راضية مرضية.
"Wahai jiwa (ruh) yang tenang.  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai”. (QS. al-Fajr [89]: 27-28).

Ciri Orang yang Bertaqwa

Salah satu perintah Allah swt. yang banyak disebutkan dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. adalah agar kita, orang-orang mukmin, berusaha mencapai tingkat/derajat taqwa. Taqwa kepada Allah swt. begitu penting, karena dengan taqwa ini, seseorang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt. Taqwa adalah buah dari pohon ibadah. Ia merupakan tujuan utama dari setiap perintah ibadah kepada Allah swt. Perintah berpuasa misalnya bertujuan untuk meningkatkan derajat ketakwaan bagi orang-orang beriman. Taqwa yang sesungguhnya hanya diperoleh dengan cara berupaya secara maksimal melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangannya. Ketaatan ini adalah ketaatan yang tulus, tidak dicampuri oleh riya atau pamrih.

Banyak sekali ayat-ayat Allah maupun hadis Nabi saw. yang menekankan perintah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Di antarnya adalah  firman Allah swt. :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.  QS. Ali Imran 3:102.
Firman Allah tentang kedudukan orang-orang yang bertaqwa: 

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan”. QS. An-Naba’ 78: 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia  akan menadakan baginya jalan keluar. Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”. QS. Ath-Thalaq 65: 2-3.

Taqwa kepada Allah artinya mempunyai kesadaran akan kehadiran-Nya. Allah selalu dekat dan menyertai kita, selalu mengawasi setiap perbuatan kita sehingga menimbulkan kesadaran agar kita senantiasa berhati-hati, jangan sampai menyimpang  dari tuntunan, ajaran, dan ketentuan-ketentuan Allah swt. dalam kehidupan  keseharian kita. Hal tersebut akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan hati serta kesejahteraan dan keselamatan baik dalam kehidupan di dunia yang sebentar ini, maupun dalam kehidupan di akhirat yang langgeng kelak.
Apakah kita sudah berhasil mencapai tingkat taqwa tersebut? Hanya Allah swt. dan kita masing-masinglah yang mengetahuinya dengan tepat.
Salah satu ayat al-Qur’an yang membicarakan taqwa adalah surah al-A’raf ayat 26 sebagai berikut: 
يابنى آدم قد أنزلنا عليكم لباسا يوارى سوءاتكم  وريشا ولباس التقوى ذلك خير ذلك من ءايات الله لعلهم يذكرون
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa Ia telah menyediakan dua macam pakaian bagi manusia: 
Pertama, pakaian lahir yang mempunyai 2 (dua) fungsi pokok, yaitu untuk menutupi aurat atau melindungi fisik orang dari bahaya yang datang dari luar dan (fungsi kedua) sebagai hiasan. 
Para ulama menjelaskan bahwa pakaian lahir yang disebut dalam ayat itu, di samping pakaian yang kita kenakan sehari-hari, berarti pula semua kenikmatan duniawi yang dianugrahkan Tuhan kepada kita yang memang kita butuhkan dalam hidup ini. Misalnya kesehatan badan, penguasaan ilmu pengetahuan yang luas dan dalam, perolehan rezeki/harta yang cukup, dan kekuasaan duniawi. Itu semua adalah perkara lahir yang dibuthkan manusia dalam hidupnya di dunia ini. 
Kedua, pakaian batin, atau dalam ayat di atas disebut “pakaian taqwa”.  Pakaian taqwa ini –menurut ayat di atas- ternyata lebih baik dan lebih pentng ketimbang pakaian lahir. Ini karena pakaian taqwa akan memperindah ruhani, hati dan jiwa manusia. Pakaian taqwa akan menentukan apakah pakaian lahir tadi bermanfaat atau tidak. Banyak orang berpakaian lahir, tapai tidak berpakaian taqwa, maka pakaian lahir tadi tidak memberikan manfaat apa-apa untuknya di dunia maupun di akhirat. 
Al-Hasan al-Bashri, ulama besar yang hidup pada akhir abad VII M, dalam telaahnya tentang pengertian taqwa yang terkandung dalam surah al-A’raf ayat 26 di atas, mengungkapkan ciri-ciri orang yag bertaqwa kepada swt., sebagai berikut:

  1. Teguh dalam keyakinan dan bijaksana dalam pelaksanaannya;
  2. Tampak wibawanya karena seuma aktivitas hidupnya dilandasi kebenaran dan kejujuran;
  3. Menonjol rasa puasnya dalam perolehan rezeki sesuai dengan usaha dan kemampuannya;
  4. Senantiasa bersih dan berhias walaupun miskin;
  5. selalu cermat dalam perencanaan dan bergaya hidup sederhana walaupun kaya;
  6. Murah hati dan murah tangan
  7. Tidak menghabiskan waktu dalam perbuatan yang tidak bermanfaat;
  8. Tidak berkeliaran dengan membawa fitnah
  9. Disiplin dalam tugasnya;
  10. Tinggi dedikasinya;
  11. Terpelihara identitas muslimnya (setiap perbuatannya berorientasi kepada terciptanya kemaslahatan/kemanfaatan masyarakat);
  12. Tidak pernah menuntut yang bukan haknya serta tidak menahan hak orang lain;
  13. Kalau ditegur orang segera intropeksi. Kalau ternyata teguran tersebut benar maka dia menyesal dan mohon ampun kepada Allah swt. serta minta maaf kepada orang yang tertimpa oleh kesalahannya itu;
  14. Kalau dimaki orang dia tersenyum  simpul sambil mengucapkan: “Kalau makian anda benar saya bermohon semoga Allah swt. mengampuniku. Kalau teguran anda ternyata salah, saya bermohon agar Allah mengampunimu.

Kalau kita mempunya ciri-ciri seperti di atas, berarti kita pantas merasa telah mencapai tingkat ketaqwaan keapda Allah swt. dan tentu harus kita pwlihara serta tingkatkan terus menerus. Pakaian taqwa dengan ciri-ciri seperti di atas yang telah kita perjuangkan; menenunnya/merajutnya dengan susah payah sepanjah hidup kita ini janganlah dirusak lagi. Semoga Allah swt. menuntun kita masing-masing untuk mencapai tingkat taqwallah seperti di atas.