Beranda Contoh MC Kata Bijak Sambutan Tata Bahasa Puisi Sastra

Mengendalikan Hawa Nafsu (Syahwat)

Sudah menjadi sebutan umum bahwa hawa nafsu dalam istilah yang berlakua dimasyarakat adalah hal yang negatif, dengan demikian kata hawa nafsu sering dinisbatkan pada sesuatu yang buruk, pada pengertian seczara bahasa hawa nafsu dibagi menjadi dua yakni hawa dan nafsu.  Hawa adalah syahwati, sebuah keinginan, dan Nafsu sama dengan jiwa, manusia, itu jika dilihat secara bahasa. Teaptnya "al-hawâ" yang artinya "Saqatha min 'ulwin" (terjatuh dari atas ke bawah); "al-Mailu" (keinginan dan kesenangan); dan "al-Hubb" (cinta). Dari sini terbentuk beberapa istilah seperti " 'ala hawâhu " (relatif dinisbatkan pada sesuatu); "Ittaba'ahawâhu" (mengikuti keinginan syahwatnya); dan "Fil-Hawâ" (jatuh cinta atau yang dikemas oleh syahwatnya). Jadi istilah "hawa" ini lebih tepat jika disamakan dengan "syahwat". Syahwat artinya segala sesuatu yang diinginkan, yang digemari, yang disukai, yang menarik hati dan yang mendorong hasrat seksual. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala: 
Mengendalikan Hawa Nafsu (Syahwat)
"Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, (yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-­laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kenderaan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak dan sawah-ladang. Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. Namun di sisi Allah ada (lagi) sebaik tempat kembali"(Q.S. Ali Imran: 14).

Mengendalikan Hawa-Syahwat (وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى)
Sebagai mana dalam A-Qur’an : 
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan Jiwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)".(QS. An-Nazi’at: 40-41).

Dengan demikain bagaimana cara kita meghindari hawa nafsu tersebut, sudah sangat gamblang jika kita meninggalkan ha tersebut maka kita akan mendapatkan sebuah kebahagiaan disyurga, dan akan tinggal disana selamanya. Meninggalkan hawa nafsu memanglah bukan ha yang sangat mudah akan tetapoi dengan mendekatkan diri para Rabb-Nya maka kita akan terhindar dan senantiasa mengingat akan dosa. Secara manusiawi memang bukan tidak mungkin kita akan terjerumus akan tetapi degan selalu mengingat Allah kita akan mampu mengusai hawa dan nafsu kita untuk tidak melakukan hal-hal yang yang dimurkai Oleh Allah, setidknya kita malu dengan mengikuti hawa nafsu kita lantaran kita ingat pada Tuhan kita. Adapula proses untuk membendung haa nafsu yang sangat pokok adalah sebagai berikut

Berpuasa
Puasa merupakan sebuah tingkah dimana kita akan mengontrol segala sesuatu yang berhubungan dengan keburukan, bayangkan saudara jika sedang dalam keadaan berpuasa dengan demikian soaudara akan merasa dalam sebuah waktu dimana dalam perlindungan  dan menciba masuk menjadi hamba yang tunduk. Puasa adalah Perisai, yang artinya "Shâma, Yashumu, Shawman-wa Shiyâman" yang artinya "menahan" dan "mengekang" seperti yang tertera pada ayat surat Nazi'at ayat 40 diatas dengan menahan diri dari hawa nafsu (syahwat)  maka ita akan tinggal disurga, dengan menggunakan perisailah (berpuasa) kita akan jauh untuk melakukan hal negatif.

Berdzikir.
Kedua adalah berdzikir, karena dengan berdzikir maka kita akan selalu mengingat Allah Swt. dengan demikian kita bisa mencegah Hawa Nafsu (Syahwat) dan tidak akan terjerumus. Menutupi pandangan dan ingat kepada Tuhan.

Terima kasih telah mengunjungi blog ini, Silahkan berkomentar