Beranda Contoh MC Kata Bijak Sambutan Tata Bahasa Puisi Sastra ☰

Islam dan Fanatisme Kesukuan || Ceramah, Kultum

Islam datang ke muka bumi ini dengan ajaran-ajaran Alah swt. yang mengarahkan manusia seluruhnya kepada kehidupan yang ideal, yaitu kehidupan yang paling sempurna, sejauh yang dapat dicapai oleh manusia di muka bumi ini, baik dalam bidang akidah, ibadat, maupun dalam kehidupan sosial,demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunai dan di akhirat.

Ketika agama Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. itu untuk pertama kalinya datang di Makkah, jazirah Arab, abad VI M, maka banyak aspek kehidupan masyarakat Arab ketika itu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam pembawa rahmatan lil alamin itu. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah faham syirik dalam bidang akidah dan ibadat, pandangan hidup yang materialistis, perbudakan dan fanatisme kesukuan dalam bidang sosial.

Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah saw.  telah berhasil menumpas penyakit-penyakit syirik, pandangan hidup materialistik, perebudakan, dan fanatsime kesusukan, serta penyakit-penyakit kemasyarakatan lainnya dalam waktu yang relatif singkat, berkat dakwahnya yang berlandaskan tauhid dan keteladanan akhlaqul karimah.

Penyakit sosial berupa fanatisme kesukuan, dalam bahasa Arabnya dikenal dengan istilah ashabiyyah jahiliyyah. Akhir-akhir ini, ‘ashabiyyah jahiliiyah atau fanatisme kesukuan kembali muncul dan memerlukan penangan serius dari semua fihak. Fanatisme kesukuan ditandai oleh tiga hal. Pertama; seseorang merasa berkewajiban untuk membela warga kelompoknya atau sukunya, sekalipun warga yang bersangkutan berada di pihak yang salah. Warga yang bersangkutan merasa berhak mendapat bantuan dari warga yang lain, walaupun ia telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran dan rasa keadilan. Kedua, seseorang merasa berkewajiban menolong sesama anggota sukunya  yang sedan gmenalami kesulitan atau menghadapi suatu masalah, dengan cara apapun, sekalipun cara yang ditempuhnya bertentngan dengna peraturan dan hukum yang berlaku atau illegal. Bahkan ‘ashabiyyah pada zaman jahiliyyah dahulu seringkali membuat seseorang merasa bangga yang berlebihan dengan kelompok atau sukunya, sehingga memandang rendah kelompok atau suku yang lain.

Rasulullah saw. melihat bahwa ‘ashabiyyah jahiliyyah atau fanatisme kesukuan telah embawa akibat yang buruk dan kerugian yang besar bagi masyarakat luas. Karena itu beliau sejak awal berketatapan hati untuk memberantasnya, sebagaimana sabdanya antara lain:

إيآكم ودعوى الجاهلية
“Buanglah jauh-jauh fanatisme jahiliyyah”.
ليس منا من دعا إلى عصبية
“Orang yang suka menghembus-hembuskan fanatisme jahiliyyah bukanlah ia dari golongan kita, kaum muslimin”.

Fanatisme kesukuan dalam sejarahnya ternyata telah mendatangkan banyak bencana dan kerugian moral maupun material di kalangan warga masyarakat jazirah Arab, yang ketika itu memang teridir dari banyak kabilah atau suku-suku. Kerugian-kerugian tersebut antara lain adalah:

Pertama,
Ashabiyyah jahiliyyah telah banyak menimbulkan pertentngan, pertengkaran dan bentrokan fisik antar kelompok kecil maupun antar kelompok besar yang disebut kabilah. Bahkan, tidak jarang terjdi peperangan antara satu kabilan dengan kabilah tetangganya, gara-gara sebab yang sepele, dan setelah diteliti ternyata akar permasalahannya bersuber dari ashabiyyah jahiliyyah itu.

Kedua, 
Ashabiyyah jahiliyah telah menimbulkan persekongkolan dalam kezhaliman yang acapkali menimbulkan lenyapnya hak-hak pihak lain dan timbulnya tindakan sewenang-wenang dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah.

Ketiga, 
Ashabiyyah jahiliyyah telah mengakibatkan meluasnya tindakan-tindakan kriminal semisal pembunuhan, pencurian, penggelapan milik orang lain, dan teror yang pada gilirannyaakan emnumbuh suburkan tindakan-tindakan balas dendam dari pihak yang sebelumnya merasa dirugikan.

Keempat, 
ashabiyyah jahiliyah telah menggoyahkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan di kalangan warga masyarakat azirah Arab secsara keseluruhan. Hal ini pada gilirannya mengakibatkan pra penguasa setempat tidak berwibawa dan tidak berdaya dalam menegakkan peraturan dan melaksanakan undang-undang. Akibat paling buruk adalah merluasnya  anarkisem di masyarakat luas.

Bagaimana upaya yang dilakukan Rasulullah saw untuk memberantas ‘ashabiyyah jahiliyyah pada masanya, kiranya dapat dijadikan contoh dalam membeantas ‘ashabiyyah jahiliyyah paa abad 21 ini.
Rasulullah mengkampanyekan prinsip-prinsip ajaran Islam tentang persamaan dan persaudaraan yang lebih luas, yaitu persaudaraan Islam(ukhuwwah islamiyyah), bahkan persaudaraan sesama  ummat manusia, tanpa membedakan warna kulit, jenis kelamin, suku bangsa dan daerah asal. Ketika seorang sahabat bernama Abu Dzar al-Ghihfari memanggil seseorang: “wahai orang hitam,” Nabi saw mendadak berubah raut mukanya seraya berkata kepada Abu Dzar: “Abu Dzar, ternyata engkau masih memiliki sifat jahiliyyah”.

Langkah-langkah lain dengan pendekatan sosial yang kongkrit pun dilakukan oleh Rasulullah dalam rangka memberantas ashbiyyah ini. Misalnya melalui pemberian zakat, shadaqah dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang dilakukan kaum Muslimin yang mampu kepada kaum muslimin yang tidak mampu dan memerlukan bantuan. Dengan demikian, warga masyarakat semuanya merasa diperlakukan secara adil.

Keberhasilan Rasulullah dalam mempersatukan kabilah-kabilah Arab dalam persaudaraan seagama dan kemanusiaan merupakan nikmat yang tiada taranya dari Allah swt., sebagaimana dalam firman-Nya:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا ، واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم إعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا ، وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها . كذلك يبين الله لكم آياته لعلكم تهتدون (آل عمران : 103)
“Berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (pada masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu kam karena nikmat Allah menjadi orang-orang yang bersaudara, dan kamu pernah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Dengan demikian, kaum muslimin menjadi ummat yang bersatu, dan bukan saja pandai memberi perlindungan kepada sesama muslim, tetapu juga kepada non-muslim yang ingin bekerja sama dengan baik dengan kaum Muslimin, seperti dalam sabda Rasulullah saw.:
المسلمون تتكفأ دماؤهم ، ويسعى بذمتهم أدناهم , وهم يد على من سواهم
“Kaum Muslimin sama antara seorang dengan yang lain dan bahkan mereka memberikan perlindungan keamanan kepada pihak non Muslim sekalipun. Kaum Muslimin itu adalah merupakan satu barisan yang kokoh dalam menghadapi pihak lain”.

Karena memiliki kelebihan seperti itu, maka Allah memuji ummat Islam, dalam firman-Nya:
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله (آل عمران : 110)
“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”.

Demikianlah, ashabiyyah jahiliyyah yang sempat meluas pada zaman jahiliyyah dan awal Islam, tetapi telah berhasil dikikis habis oleh Rasulullah saw. 14 abad yang lalu. Kini, ashabiyyah ini  mucul kembali pada melinium II dewasa ini di banyak tempat, di kota dan di desa, di kalangan masyarakt muslim maupun bukan muslim. Dengan berkaca kepada apa yang telah dilakuan oleh Rasulullah saw. bersama sahabatnya dahulu dalam menanggulangi wabah ashabiyyah atau fanatisme kesukuan tersebut, mari kita bersama-sama menanggulangi penyakit sosial ini. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah swt.  lahir batin dalam upaya menciptakan masyarakat yang dipenuhi semangat ukhuwwah islamiyah yang mampu membuat seluruh kaum Muslimin menjadi satu keluarga besar yang kokoh, kuat, dan penuh toleransi pula terhadap ummat lain. Amin.

Jagalah Lidahmu || Materi Khutbah, Ceramah, kultum


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ للهٍ الذى نَزَّلَ اْلفُرْقَانَ عَلَى عِبَادِهِ لِيَكُوْنَ لِلْعَالَِميْنَ نَذِيْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لآ اِلهَ الله وَحْدَهُ لآشَرِيْكَ لَهُ الذِى خَلَقَ اْلِأنْسَانَ فىِ أَحْسَنِ تَقْوِيمْ. وأَشهد أن محمدا عبدُه ورسولُه اْلهَادِى الى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ مَنْ سَلَكَهُ فَازَ بِالعِزِّ وَالنَّعِيْمِ اْلمُقِيْمِ ومن حَادَ عَنْهُ رُمِىَ بِهِ فِى اْلجَحِيْمِ. والصلاةُ والسلامُ على سيِّدِ اْلخَلْقِ مُحمدِابْنِ عَبْدِاللهِ وعلى أله وأصحابه الذين جَاهَدُوْا فى اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ فَكَانُوْا أَحِقَّاءَ بِالنَّعِيْمِ اْلمُقِيْمِ. أمابعد:
Saudara-Saudara kaum muslimin rahimakumullah
Ketaqwaan harus selalu menjadi cermin utama kita dalam meniti kehidupan. Menjadi simbol sejati dalam beraktivitas sehari-hari bahkan rasa taqwa itu hendaknya mampu membaluri segenap tingka laku kita, sehingga kita benar-benar mempunyai aklak yang mahmuda (terpuji) yang merupakan cermin dari pribadi muttaqin tadi.

Jika ingin menjadikan diri kita sebagai muttaqin sejati, maka satu hal yang perlu kita lakukan adalah menjaga salah satu anggota badan yang kelihatannya kecil, namun apabila tidak sanggup menjaganya, maka akan menimbulakan bencana yang sangat dahsyat. Anggota badan yang dimaksut adalah lidah. Lidah memang tidak bertulang tetapi sedikit saja salah dalam berbicara, maka akibatnya menjadi sangat fatal. Bisa terjadi perttumpahan darah, pertengkaran atau mungkin tidak saling tegur sapa. Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh pepatah Arab:
سلامة الإنسان فى حفظ اللسان               
“Keselamatan seseorang, tergantung pada bagaimana ia menjaga lidahnya”.

Sedemikian pentingnya menjaga lidah sehingga beliau bersabda:
 كُفَّ عَليك هذا, وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فى النارِ على وُجُوْهِهِمْ أو قال على مَنَاخِرِهِمْ إلَّاحَصَائِدُ أَلْسِنَتَهُمْ  
"Peliharahlah lidahmu karena manunusia nanti akan dicampakkan ke dalam neraka entah mukanya atau atau batang hidungnya yang tercampak terlebih dahulu, itu semua terjadi karena tidak bisa menjaga lidahnya".

Dalam hadis lain Rasulullah juga telah memberi peringatakan bahwa hendaknya anggota badan yang bernama lidah selalu di jaga, dalam artian bahwa tidak digunakan berbira kotoar, mengumpat, menggunjing, dan lain-lain. Tetapi hendaknya lidah digunakan berkata jujur, kalau tidak bisa, lebih baik diam. sebagaimana sabda Raulullah:
مَنْ كان يُؤْمِنُ بالله واليومِ الأخرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أولِيَصْمُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah berkata yang baik (jujur) atau diam".
Inilah sabda Rasulullah yang merupakan ilustrasi bahwa keimanan seseorang dapat diukur dari perkataan baik dan buruknya.
Imam al-Gazali dalam kitabnya Ihya Ulum al-Din,  menulis bahaya-bahaya lidah kalau tidak bisa menjaganya.
Pertama, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, selau berkata yang tidak ada guna dan mamfaat. Juga memunculkan perkataan yang ngelantur, tiada ujung dan pangkalnya, sehingga potensial melahirkan fitnah. Permusuhan dan pertengkaran. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:
مِنْ حُسْنِ اْلِإسْلَاِم اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيْهِ 
"Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak patut dilakukan."
Kedua, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, akan suka membicarakan hal-hal yang erotis, kemaksiatan, penjudian, perzinahan dan lain-lain. 
Ketiga, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, selalu menjadi pemicu pertengkaran. Belum tahu persoalan yang sebenarnya tiba-tiba saja emosi menguasai jiwanya. Kemudian lahirlah pertengkaran, pertikaian dan lain-lain. Olehnya itu Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَبْغَضُ  الرِّجَالِ إلى الله اْلأَلَدُّاْلِخصَامِ
"Orang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang suka bertengar dan suka saling menyerang."
Keempat, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, akan selalu berbicara dusta. Sebagai buah dari tidak terkontrolnya agama dan akal sehat. Dan jika orang sudah terbiasa berkata dusta, maka tidak ada alamt yang dialamtkan kepadanya kecuali tanda munafiq. Sebab Rasulullah telah menyatakan tanda-tanda orang munafiq, adalah jika berbicara, ia selalu dusta.

Kelima, lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, akan melahirkan orang-orang suka melanggar janji, padahal janji harus selau ditepati. Janji adalah hutang (الوعد دين)  siapa yang berjanji ia harus menepati janjinya, baik janjinya kepada teman, saudara, partner bisnis, lebih-lebih janji kepada Allah.
Itulah beberapa hal yang menjadi bahaya lidah yang tidak terkontrol oleh nilai-nilai Islam, semoga dengan ayat dan hadis ini, kita dapat berupaya untuk lebih meningkatkan kualitas taqwa dengan menjaga lidah yang dapat menimbulakan bahaya yang dahsyat. Agar kita bisa hidup dengan damai dan tentram.
والسلام

Al-Qur’an dalam Kehidupan masa kini || Khutbah Jum'at

Al-Qur’an adalah kitab suci yang terakhir dan tersempurna, diwahyukan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. Sebagai petunjuk untuk keselamatan hidup ummat manusia di dunia dan akhirat. Wahyu tersebut diturunkan Allah ke dalam hati yang suci. Allah berfirman:

تزل به روح الأمين . على قلبك لتكون من المنذرين.
“Al-Qur’an di bawa oleh Ruhul Amin ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”. (QS. Al-Syu’ara, 26:193-4).

Ayat ini mempunyai makna dan arti bahwa terjadinya hubungan atau komunikasi antara Allah dan manusia adalah melalui hati yang suci dan bersih, dan dari hati yang suci itu pulalah orang dapat menyampaikan dan memberikan peringatan kepada orang lain. Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling belakangan diturunkan dan tidak ada satu kitab suci pun yang paling terkenal dalam sejarah dan paling besar pengaruhnya dalam kehidupan manusia, kecuali kitab suci al-Qur’an. Karena itu, bagi seorang muslim, pemahaman terhadap al-Qur’an meruapakan suatu kebutuhan yang mendesak untuk menjadi bimbingan dalam kehidupan kita.

Bafi seorang sosiolog misalnya, pemahaman terhadap al-Qur’an merupakan suatu hal yang penting mengingat jejak yang telah ditimbulkan Al-Qur’an sepanjang sejarah masyarakat manusia dan pengaruhnya begitu besar terhadap kehidupan ummat manusia. Sampai saat ini, al-Qur’an sudah dipahami dari berbagai bidang ilmu. Walaupun demikian, kebutuhan seorang muslim terhadap al-Qur’an dan pemahamannya adalah karena Al-Qur’an merupakan prinsip dasar agama, prinsip iman dan pemikiran yang dapat memberi arti, dorongan, kesucian dan semangat dalam hidup. Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan yang paling suci bagi orang-orang yang mau hidup suci.

Karena al-Qur’an adalah petunjuk untuk keselamatan hidup kita dunia dan akhirat, maka kita perlu merasakan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada kita dan pada saat ini. Ini bermakna bahwa al-Qur’an benar-benar memberi petunjuk buat kita sekarang ini. Jadi, kita benar-benar memfungsikan al-Qur’an sebagai kebutuhan yang sangat mendesak untuk saat ini. Al-Qur’an hanya akan menjadi mainan hidup saja jika tidak diterima dengan hati yang suci.

يقولون بأفواههم ما ليس فى قلوبهم
“Mereka mengatakan dengan bibir  apa yang tiada dalam hati mereka” (QS. Ali Imran, 3:167)

Jadi al-Qur’an akan dapat menjadi petunjuk, jika diterima dengan hati yang suci:
ومن يؤمن بالله يهد قلبه 
“Barang siapa beriman kepada Allah, Ia akan memberi hidayah pada hatinya”. (QS. Al-Thaghabun, 64:11)
Menurut ajaran al-Qur’an, keberadaan iman, taqwa, dan hidayah ditempatkan Allah di hati. Demikian juga puncak pengetahuan tertinggi, yaitu wahyu, juga ditempatkan dalam hati. Itu sebabnya semua kebaikan mucul dari hati yang suci dan tulus, seperti cinta, rahmah, toleran, ketenangan, kedamaian, kesucian, dan semua sifat terpuji. Sebaliknya, pada hati itu pula tersimpannya kekafiran, kebodohan, kebencian, kesombongan, kekerasan, kedengkian, kegoncangan, kegelisahan, ketakutan dan semua sifat tercela. Sifat dan perbuatan terpuji muncul dari hati yang sehat (qalb salim), sedangkan sifat dan perbuatan tercela mucul dari hati yang mengidap penyakit.

فى قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون
“Dalam hati mereka terdapat penyakit lalu Allah menambahkan penyakit itu, dan bagi mereka siksa yang pedih atas apa yang mereka dustakan” (QS. Al-Baqarah, 2;10)

Dari penyakit-penyakit hati inilah timbul kerusakan hidup, kerusakan bangsa dan negara. Untuk pengobatannya, tidak ada jalan, kecuali kembali kepada al-Qur’an dengan hati yang tulus dan suci. Al-Qur’an adalah obat untuk kehidupan ini, karena itu kembalilah kepada al-Qur’an, jika ingin hidup tenang, damai dan aman. (Zuhri).

Dimensi Tauhid dalam Perspektif Islam

Manusia terdiri dari dua dimensi, yaitu jasmani dan ruhani, raga dan jiwa, atau badan dan ruh. Kedua unsur tersebut memiliki peranan yang sangat penting bagi keberadaan dan kehidupan manusia. Namun demikian, dalam tasawuf ruh mempunyai kelebihan tersendiri dibanding dengan badan, karena ruh diyakini memiliki unsur ketuhanan.  Menurut para sufi, materi ruh manusia berasal dari ruh Tuhan sendiri, sesuai dengan firman Allah yang terdapat pada QS. al-¦ijr [15]: 29, sebagai berikut:

فإذا سويته ونفهت فيه من روحى .....
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku…” (QS. al-¦ijr [15]: 29).

Pada awal dari eksistensinya, ruh berada di alam azali, yaitu suatu alam yang merupakan awal keberadaan.  Pada saat ini ruh berada bersama dengan Tuhan Sang Pencipta dengan segala sifat-sifat kebaikan-Nya.  Sebagai Yang Maha Pencipta, Ia juga bersifat Maha Suci, yang artinya tiada sesuatu yang merupakan noda ada pada-Nya.  Sementara itu, karena bersama dengan Tuhan Yang Maha Suci, maka mestilah ruh juga berada dalam kesucian.  Artinya bahwa ketika itu ruh hanya mengenal Tuhan dan sifat-sifat yang dimiliki.  Tidak ada sesuatu yang diketahui selain Tuhan.  Sehingga seluruh perhatian ruh hanya tertuju kepada Tuhan dan tidak kepada yang lainnya.  Inilah kebahagiaan, kedamaian, dan kenikmatan yang dirasakannya ketika berada bersama dengan Tuhan Yang Maha Suci.  Pada fase ini semua ruh mengakui dan telah bersaksi bahwa hanya Allah semata yang menjadi Tuhan mereka.  Tak satupun dari ruh-ruh itu yang mengatakan adanya Tuhan yang lain atau yang mengakui dirinya tak bertuhan.  Semua sepakat bahwa Allah adalah Tuhan mereka Yang Esa.  Ikrar para ruh itu telah diabadikan dalam al-Qur’an pada surah al-A`r±f [7]: 172, sebagai berikut:

...وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا ....
 "… dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?  Mereka menjawab: Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS. al-A`rof [7]: 172).

Pada saat tahap selanjutnya dari keberadaan yang dilalui tiba, ruh harus meninggalkan alam azali untuk ditiupkan ke dalam janin yang berada dalam rahim atau kandungan seorang wanita.  Kemudian, setelah sampai waktunya, lahirlah ia ke alam dunia yang merupakan fase ketiga dari kehidupannya.  Inilah fase terpenting dari keberadaannya.  Sebab pada tahap inilah, ruh akan ditentukan bagaimana kehidupan yang akan dialami pada fase-fase yang akan datang.  Di alam dunia ini, ruh yang telah masuk ke dalam badan manusia mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri dengan memotifasi jasmani dalam melakukan tindakan-tindakan yang terpuji agar ia mendapat pahala dari kebaikannya, atau sebaliknya justru berbuat yang tidak baik dan melanggar aturan Ilahi, sehingga kelak akan mendapat balasan yang setimpal, baik pada waktu berada di dunia maupun di alam selanjutnya.

Sejak keberadaannya di alam dunia, ruh mulai mengenal materi-materi di sekitarnya selain Tuhan.  Pada pengenalannya itu, ia mengetahui bahwa sebagian dari benda-benda tersebut dapat memberikan kenikmatan atau kesenangan pada jasmaninya.  Pada tahap ini semua ruh kemungkinan besar akan terpesona dan terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat keduniawian tersebut, sehingga ia terperosok untuk hanya memikirkan dan menikmati kesenangan duniawi.  Hal ini pada giliran selanjutnya akan menyebabkan ruh melalaikan Tuhannya dan perhatiannya hanya terpusat pada materi yang membawa kesenangan jasmani.  Kondisi seperti ini, dalam ajaran tasawuf disebut ruh yang telah terkotori oleh kenikmatan duniawi.  Keadaan tersebut akan mengakibatkan ia berada jauh dari Tuhan Yang Maha Suci.  Ia tidak lagi dapat mendekatkan diri disebabkan kotoran duniawi yang menjadi perhatiannya.

Ketika seseorang akan memeluk Islam, secara sadar ia diwajibkan mengucapkan ikrar syahadat.  Pada dasarnya syahadat yang pertama (Syahadat Tauhid) yang berisi kesaksian kepada Tuhan Yang Esa adalah untuk mengingatkan kembali pada janji yang telah dibuat pada masa azali.  Syahadat itu seolah-olah merupakan suatu teguran yang bila diungkap akan menjadi pertanyaan mengapa yang telah berjanji untuk bertuhan hanya kepada Allah, kini ia dapat mengakui pula selain Dia sebagai tujuan ibadah, tempat minta tolong, tempat mencari berkah, dan lain sebagainya.  Selain itu, ikrar tersebut juga untuk mengingatkan ruh manusia bahwa ia pada masa itu adalah dalam keadaan suci, yaitu hanya kepada Tuhan semata pusat perhatiannya tertuju, dan bukannya kepada kesenangan serta kenikmatan duniawi seperti saat berada di dunia, yang telah membawanya lupa akan asal dan tempat kembali kelak.  Dengan Syahadat Tauhid, ruh telah diajak untuk kembali kepada keadaan semula, yaitu dalam kesucian.  Ikrar tersebut dimaksudkan untuk memotivasi ruh agai ia dapat memusatkan kembali perhatiannya kepada Tuhan, dan tidak hanya tertuju kepada benda-benda duniawi yang tidak langgeng.

Syahadat Tauhid juga merupakan peringatan bahwa tujuan jangka panjang dari kehidupan manusia adalah bersatu bersama dengan Tuhan.  Dalam teori sufisme kebersamaan dengan Allah itu dapat mengambil bentuk Ittihad dan Hulul.  Yaitu bersatunya ruh bersama dengan Tuhan. Peristiwa ini merupakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi ruh.  Dalam suasana demikian, ruh sebenarnya kembali kepada keadaan semula seperti ketika berada pada alam azali dahulu.

Ruh akan dapat berada dalam suasana Ittihad atau Hulul, bila ia dapat mensucikan dirinya dari segala kotoran duniawi terlebih dahulu.  Ia harus memisahkan dirinya dari segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang bersifat materi.  Yang ada dalam perhatiannya hanya Tuhan, dan Ia semata yang menjadi pusat tujuan, sehingga yang lain terasa seolah menjadi tidak ada.  Inilah tingkat atau suasana pembersihan jiwa, atau yang dikenal dengan tazkiyatun nafs.  Tuhan itu Maha Suci.  Tidak mungkin sesuatu dapat berada bersama dengan-Nya, kecuali bila ia dalam keadaan suci pula.  Karena untuk bersama dengan Allah, ruh mesti mensucikan diri terlebih dahulu dari hal-hal yang tidak baik dan kotoran duniawi.  Bila upaya ini berhasil, maka ruh manusia akan menjadi bersih, suci, dan berada dalam ketenangan dan kedamaian.  Ketika itu layaklah ruh untuk kembali kepada Tuhan, sebagaimana ajakan yang diungkapkan dalam QS. al-Fajr [89]: 27-28, sebagai  berikut:

ياأيتها النفس المطمئنة.  ارجعى إلى ربك راضية مرضية.
"Wahai jiwa (ruh) yang tenang.  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai”. (QS. al-Fajr [89]: 27-28).

Ciri Orang yang Bertaqwa

Salah satu perintah Allah swt. yang banyak disebutkan dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. adalah agar kita, orang-orang mukmin, berusaha mencapai tingkat/derajat taqwa. Taqwa kepada Allah swt. begitu penting, karena dengan taqwa ini, seseorang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt. Taqwa adalah buah dari pohon ibadah. Ia merupakan tujuan utama dari setiap perintah ibadah kepada Allah swt. Perintah berpuasa misalnya bertujuan untuk meningkatkan derajat ketakwaan bagi orang-orang beriman. Taqwa yang sesungguhnya hanya diperoleh dengan cara berupaya secara maksimal melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangannya. Ketaatan ini adalah ketaatan yang tulus, tidak dicampuri oleh riya atau pamrih.

Banyak sekali ayat-ayat Allah maupun hadis Nabi saw. yang menekankan perintah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Di antarnya adalah  firman Allah swt. :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.  QS. Ali Imran 3:102.
Firman Allah tentang kedudukan orang-orang yang bertaqwa: 

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan”. QS. An-Naba’ 78: 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia  akan menadakan baginya jalan keluar. Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”. QS. Ath-Thalaq 65: 2-3.

Taqwa kepada Allah artinya mempunyai kesadaran akan kehadiran-Nya. Allah selalu dekat dan menyertai kita, selalu mengawasi setiap perbuatan kita sehingga menimbulkan kesadaran agar kita senantiasa berhati-hati, jangan sampai menyimpang  dari tuntunan, ajaran, dan ketentuan-ketentuan Allah swt. dalam kehidupan  keseharian kita. Hal tersebut akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan hati serta kesejahteraan dan keselamatan baik dalam kehidupan di dunia yang sebentar ini, maupun dalam kehidupan di akhirat yang langgeng kelak.
Apakah kita sudah berhasil mencapai tingkat taqwa tersebut? Hanya Allah swt. dan kita masing-masinglah yang mengetahuinya dengan tepat.
Salah satu ayat al-Qur’an yang membicarakan taqwa adalah surah al-A’raf ayat 26 sebagai berikut: 
يابنى آدم قد أنزلنا عليكم لباسا يوارى سوءاتكم  وريشا ولباس التقوى ذلك خير ذلك من ءايات الله لعلهم يذكرون
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa Ia telah menyediakan dua macam pakaian bagi manusia: 
Pertama, pakaian lahir yang mempunyai 2 (dua) fungsi pokok, yaitu untuk menutupi aurat atau melindungi fisik orang dari bahaya yang datang dari luar dan (fungsi kedua) sebagai hiasan. 
Para ulama menjelaskan bahwa pakaian lahir yang disebut dalam ayat itu, di samping pakaian yang kita kenakan sehari-hari, berarti pula semua kenikmatan duniawi yang dianugrahkan Tuhan kepada kita yang memang kita butuhkan dalam hidup ini. Misalnya kesehatan badan, penguasaan ilmu pengetahuan yang luas dan dalam, perolehan rezeki/harta yang cukup, dan kekuasaan duniawi. Itu semua adalah perkara lahir yang dibuthkan manusia dalam hidupnya di dunia ini. 
Kedua, pakaian batin, atau dalam ayat di atas disebut “pakaian taqwa”.  Pakaian taqwa ini –menurut ayat di atas- ternyata lebih baik dan lebih pentng ketimbang pakaian lahir. Ini karena pakaian taqwa akan memperindah ruhani, hati dan jiwa manusia. Pakaian taqwa akan menentukan apakah pakaian lahir tadi bermanfaat atau tidak. Banyak orang berpakaian lahir, tapai tidak berpakaian taqwa, maka pakaian lahir tadi tidak memberikan manfaat apa-apa untuknya di dunia maupun di akhirat. 
Al-Hasan al-Bashri, ulama besar yang hidup pada akhir abad VII M, dalam telaahnya tentang pengertian taqwa yang terkandung dalam surah al-A’raf ayat 26 di atas, mengungkapkan ciri-ciri orang yag bertaqwa kepada swt., sebagai berikut:

  1. Teguh dalam keyakinan dan bijaksana dalam pelaksanaannya;
  2. Tampak wibawanya karena seuma aktivitas hidupnya dilandasi kebenaran dan kejujuran;
  3. Menonjol rasa puasnya dalam perolehan rezeki sesuai dengan usaha dan kemampuannya;
  4. Senantiasa bersih dan berhias walaupun miskin;
  5. selalu cermat dalam perencanaan dan bergaya hidup sederhana walaupun kaya;
  6. Murah hati dan murah tangan
  7. Tidak menghabiskan waktu dalam perbuatan yang tidak bermanfaat;
  8. Tidak berkeliaran dengan membawa fitnah
  9. Disiplin dalam tugasnya;
  10. Tinggi dedikasinya;
  11. Terpelihara identitas muslimnya (setiap perbuatannya berorientasi kepada terciptanya kemaslahatan/kemanfaatan masyarakat);
  12. Tidak pernah menuntut yang bukan haknya serta tidak menahan hak orang lain;
  13. Kalau ditegur orang segera intropeksi. Kalau ternyata teguran tersebut benar maka dia menyesal dan mohon ampun kepada Allah swt. serta minta maaf kepada orang yang tertimpa oleh kesalahannya itu;
  14. Kalau dimaki orang dia tersenyum  simpul sambil mengucapkan: “Kalau makian anda benar saya bermohon semoga Allah swt. mengampuniku. Kalau teguran anda ternyata salah, saya bermohon agar Allah mengampunimu.

Kalau kita mempunya ciri-ciri seperti di atas, berarti kita pantas merasa telah mencapai tingkat ketaqwaan keapda Allah swt. dan tentu harus kita pwlihara serta tingkatkan terus menerus. Pakaian taqwa dengan ciri-ciri seperti di atas yang telah kita perjuangkan; menenunnya/merajutnya dengan susah payah sepanjah hidup kita ini janganlah dirusak lagi. Semoga Allah swt. menuntun kita masing-masing untuk mencapai tingkat taqwallah seperti di atas.

Pentingnya menjaga Lisan

Assalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh

Para hadirin yang saya muliakan.
Lisan merupakan bagian dari organ tubuh yang berfungsi untuk berkomunikasi dengan yang lain, dengan diberikannya lisan oleh Allah Swt. kita semestinya mempergunakannya dengan semestinya, karena lisan merupakan kunci dari segala macam persoalan. dalam Istilah yang berlaku "Mulutmu Harimaumu" Maksudnya kata bijak tersbut merupakan sebuah warning bagi kita untuk mempergunakan lisan kita dengan baik, karena jika tidak maka akan menjadi boomerang bagi diri kita, menjadikan sebuah kepastian bahwa bahaya itu awalnya datang dari lisan kita, Kenapa? karena lisan bersentuhan langsung dengan obyek yang kita tuju, maka dari itu marilah kita jaga lisan kita agar senantiasa kita terhindar dari marabahaya.

Para hadirin yang dimuliakan Allah Swt.
Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]
Dalam ayat lain disebutkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]
Allah juga berfirman.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]
Begitu juga firman Allah Ta’ala.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَأكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ اَفَرَاَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنَّ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِاغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَهُ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”
Allah Azza wa Jalla berfirman.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَمَحَااَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ
“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” [2]
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

Pentingnya Menjaga Lisan

Masih banyak lagi nash dan dalil-dalil yang berkaitan dengan menjaga lisan kita, pada intinya adalah kita mesti berhati-hati dengan menggunakan lisan kita, banyak terjadi ditengah sosial masyarakat lantaran tidak menjaga lisan, apalagi saat ini tersedia alat komunikasi yang serba canggih, dengan demikian penggunakan lisan sangatlah praktis seperti menggunakan telephone dan lain sebagainya, tidak hanya sampai disitu. Namun, cobalah kita berfikir sejenak tentang lisan kita, dan berfikirlah apakah perkataan kita yang sudah kita lontarkan sudah melukai seseorang, maka itulah pentingnya untuk kita segera bertaobat dan segera menarik perkataan-perkataan tersebut. 

Lidah itu tajam bahkan lebih tajam dari pedang, istilah umum ini seringkali kita dengar, bagaimanakah agar kita gunakan lisan kita dengan semestinya, salah satunya, berhati, bertuturlah dengan lemah lembut, ikuti kata hati karena mulut terkadang berbeda dengan hati, demikian kultum Pentingnya menjaga Lisan semoga kita semua dapat menjaga lisan, ucapan kita serta penuh dengan perkataan-perkataan cinta dan kedamaian.

Wassalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh

Mengendalikan Hawa Nafsu (Syahwat)

Sudah menjadi sebutan umum bahwa hawa nafsu dalam istilah yang berlakua dimasyarakat adalah hal yang negatif, dengan demikian kata hawa nafsu sering dinisbatkan pada sesuatu yang buruk, pada pengertian seczara bahasa hawa nafsu dibagi menjadi dua yakni hawa dan nafsu.  Hawa adalah syahwati, sebuah keinginan, dan Nafsu sama dengan jiwa, manusia, itu jika dilihat secara bahasa. Teaptnya "al-hawâ" yang artinya "Saqatha min 'ulwin" (terjatuh dari atas ke bawah); "al-Mailu" (keinginan dan kesenangan); dan "al-Hubb" (cinta). Dari sini terbentuk beberapa istilah seperti " 'ala hawâhu " (relatif dinisbatkan pada sesuatu); "Ittaba'ahawâhu" (mengikuti keinginan syahwatnya); dan "Fil-Hawâ" (jatuh cinta atau yang dikemas oleh syahwatnya). Jadi istilah "hawa" ini lebih tepat jika disamakan dengan "syahwat". Syahwat artinya segala sesuatu yang diinginkan, yang digemari, yang disukai, yang menarik hati dan yang mendorong hasrat seksual. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala: 
Mengendalikan Hawa Nafsu (Syahwat)
"Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, (yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-­laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kenderaan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak dan sawah-ladang. Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. Namun di sisi Allah ada (lagi) sebaik tempat kembali"(Q.S. Ali Imran: 14).

Mengendalikan Hawa-Syahwat (وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى)
Sebagai mana dalam A-Qur’an : 
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan Jiwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)".(QS. An-Nazi’at: 40-41).

Dengan demikain bagaimana cara kita meghindari hawa nafsu tersebut, sudah sangat gamblang jika kita meninggalkan ha tersebut maka kita akan mendapatkan sebuah kebahagiaan disyurga, dan akan tinggal disana selamanya. Meninggalkan hawa nafsu memanglah bukan ha yang sangat mudah akan tetapoi dengan mendekatkan diri para Rabb-Nya maka kita akan terhindar dan senantiasa mengingat akan dosa. Secara manusiawi memang bukan tidak mungkin kita akan terjerumus akan tetapi degan selalu mengingat Allah kita akan mampu mengusai hawa dan nafsu kita untuk tidak melakukan hal-hal yang yang dimurkai Oleh Allah, setidknya kita malu dengan mengikuti hawa nafsu kita lantaran kita ingat pada Tuhan kita. Adapula proses untuk membendung haa nafsu yang sangat pokok adalah sebagai berikut

Berpuasa
Puasa merupakan sebuah tingkah dimana kita akan mengontrol segala sesuatu yang berhubungan dengan keburukan, bayangkan saudara jika sedang dalam keadaan berpuasa dengan demikian soaudara akan merasa dalam sebuah waktu dimana dalam perlindungan  dan menciba masuk menjadi hamba yang tunduk. Puasa adalah Perisai, yang artinya "Shâma, Yashumu, Shawman-wa Shiyâman" yang artinya "menahan" dan "mengekang" seperti yang tertera pada ayat surat Nazi'at ayat 40 diatas dengan menahan diri dari hawa nafsu (syahwat)  maka ita akan tinggal disurga, dengan menggunakan perisailah (berpuasa) kita akan jauh untuk melakukan hal negatif.

Berdzikir.
Kedua adalah berdzikir, karena dengan berdzikir maka kita akan selalu mengingat Allah Swt. dengan demikian kita bisa mencegah Hawa Nafsu (Syahwat) dan tidak akan terjerumus. Menutupi pandangan dan ingat kepada Tuhan.

Hujan adalah Rahmat maka berbahagialah

Assalamu;alaikum Wr. Wb.

Para Hadirin yang saya Muliakan.
Betapa Besar Nikmat yang telah Allah Berikan kepada kita sekalian, di muka bumi ini, dengan menjadikan kita sebagai mahluk yang diciptakan, dengan demikian kita pula diberikan banyak kelebihan. maksudku adalah kita sebagai manusia yang paling utama diantara lainnya (makhluk lainnya) akan tetapi apakah kita berfikir bagaimanakah cara bersyukur kita kepadaNya. dalam ceramah kultum kali ini saya persempit tema nya adalah tentang hujan.

ujan adalah Rahmat

Hujan merupakan sebuah nrahmat Allah Swt. yang diberikan kepada kita sekalian, banyangkan jika kalian pelajari proses bagaimana terbentuknya hujan dari step by step, dalam ilmu fisika diterangkan, betapa hebatnya dan indahnya hujan tersebut, terlebih betapa bermanfaatnya hujan itu. Namun, tak sedikit diantara kita sebagai manuasia yang menyatakan Hujan adalah bencana. mengenai hujan merupakan bencana hal itu memanglah ada benarnya akan tetapi pada seabuah daerah tertentu dan pada penduduk tertentu. seperti Hujan yang mengakibatkan banjir pada Zaman Nabi Nuh AS. Seperti yang dituangkan  dalam  AlQur'an (QS Hud [11]: 37, al-Qamar : 11-12), atau hujan batu pada masa Nabi Luth AS. Hal ini berbeda jika banjir yang terjadi seperti pada keluarga Saba' (Abd Syams bin Yasyjab bin Ya'rab bin Qahthan (QS Saba' [34]: 16) dengan berbagai kriteria yang dinyatakan dalam Alquran.

Dalam kriteria Hujan dan Musibah atau azab dalam Al-Qur'an tersebut diatas itu hanya terjadi pada beberapa kisah , pada hakikatnya hujan merupakan sebuah Rahmat seperti yang tertulis pada surah al-Anfal [8]: 11), al-Furqan [25]: 48-49, dan lainnya. Hujan itu menjadi berkah untuk membersihkan dari berbagai hal, menumbuhkan tanah yang mati, dan lain sebagainya. Jika kita melihat struktur air, maka dapat ditemukan dalam satu molekul air terdiri atas satu atom oksigen yang besar (bermuatan positif) ditempeli dua atom hidrogen yang kecil (bermuatan negatif) dalam sebuah ilmu fisika, dan alangkah bermanfaatnya bagi makhluk hidup dan kita sekian dimuka bumi ini. Karenanya, bagian oksigen molekul air tersebut masih dapat menarik atom hidrogen dari molekul air lainnya, termasuk zat-zat kimia lain. Selain sebagai pelarut yang baik, air juga termasuk makanan yang sangat penting bagi manusia, setelah oksigen dari udara untuk bernapas.

Dalam salah satu hadisnya, Nabi SAW menyatakan bahwa doa ketika sedang hujan oleh Allah dikabulkan. "Dua ketika (di mana doa) tidak ditolak atau sedikit sekali yang ditolak: (yaitu) berdoa ketika azan dan ketika pertempuran sedang berkecamuk (dan dalam satu riwayat mengatakan) dan ketika hujan." (HR Abu Daud). sudah sangatlah jelas dalam hadist Nabi tersebut betapa sangat bermanfaatnya Hujan, masih adakah bagi diri kita berfikir bahwa hujan adalah sebuah musibah, adapula kenapa hujan yang berkepanjangan mengakibatkan banjir atau menjadikan anda malas beraktivitas lantaran takut kebasahan. ini tidaklah rasional. 

Hujan yang mengakibatkan banjir pada luapan air sungai contohnya kemudian meluap pada sebuah wilayah, itu semua karena ulah tangan manusia itu sendiri yang mengakibatakan kontrol air yang tidak terakomodir sepertihalnya penebangan hutan, atau membuang sampah tidak pada tempatnya yang mengakibatkan banjir. dan tidak ada kaitannya dengan hujan atau akibat hujan. oleh karena itu marilah kita lestarikan alam kita dengan sebaik-baiknya, 

Sekian ceramah Kultum saya pada kesempatan kali ini, Akhir kata

Wassalamu'alaikum Wr, Wb.

Keutamaan Subuh | Kultum

Assalamu Alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh

Para hadirin jamaah Kuliah Tujuh menit yang insya Allah dimulyakan Oleh Allah Swt..
Puji Syukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan kita nikmat dan hidayah dimana diwaktu subuh ini kita terbangun untuk melakukan ibadah, dan mencari ilmu dalam rangka kajian kultum tentang keutamaan Shalat Subuh, Seperti yang terdapat pada Al;Qur'an Surat Al-Isra' : 78

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).”
(Qs. Al-Isra’: 78)

Sebelum saya melanjutkan kultum saya mengenai keutamaan Shalat Subuh, tidak lupa marilah kita banyak membaca sholawat kepada junjungan Nabi Besar kita Muhammad Saw, Semoga solawat dan salam kita terlimpah curahkan kepada baginda nabi besar Kita Nabianaa, Wakhabiibanaa Muhammad Saw, Kepada Keluarga, Para Sahabat, Pengikutnya dan sampai pada kita sekalian.

Para Hadirin jamaah subuh yang saya mulyakan, betapa pentingnya Shalat hingga diwajibkan bagi kita sekalian untuk mendirikannya, karena yang kita tahu adalah shalat adalah tiang agama, sebagai mana Sabda Rasulullah Saw, jika kita mendirikan shalat maka aga kita akan kokoh dan apabila tidak mendirikannya niscaya agama kita akan hancur, seperti demikian kiranya, maka itu wajibnya mengokohkan islam kita, iman kita, yakni dengan melakukuan shalat, adapula mengenai keutamaan shalat subuh yakni sebagai berikut :

Akan Masuk Surga, 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.”
(HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)
Dan yang keduaini yakni akan menghalangi kita masuk neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).”
(HR. Muslim no. 634)
Allah akan menjamin diri kita
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.”
(HR. Muslim no. 163)
Pahala kita akan dihitung seperti halnya kita shalat semalam penuh (Full)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ
“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.”
(HR. Muslim no. 656)
Malaikat menyaksikannya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ
 “Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).”
(HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)
Dari banyak keutamaan shalat Subuh tersebut, masih banyak saja saudara kita muslim yang meninggalkan salat, apalagi salat subuh dimana orang lebih memilih tidur dari pada melakukan shalat, syukurlah kita semua dapat melakasanakan shalat Subuh dengan berjamaan Di Masjid, Mushollah, Langgar ini, apalagi setelah kita melakukan Shalat Shubuh melakukan Zdikiran, Wiridan, Membaca Al-Qur'an, dan seterusnya, dan Syukurlah para jamaah hati kita sekalian terketuk untuk melakukan shalat subuh, bahkan dilanjutkan dengan kajian Ilmu agama guna memperebal iman kita sekalian, dan semoga kita semua bisa Istiqomah.. Amiin Yaa Robbal Alamin. 
Adapula yang wajib kita ketahui adalah bagaimanakah resiko yang tidak melakukan shalat subuh, atau yang tidak melakukan shalat Subuh adalah tergolong orang Munafik seperti pada Hadist dibawah ini :
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”
(HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Demikian Kiranya Kultum yang bisa saya sampaikan, semoga kita senantiasa mendapatkan Taufik dan Hidayah dari Allah Swt, dan beristiqomah dalam mendirikan Ibdah shalat kita tidak lupa marilah kita bersama mendoakan saudara-saudara kita, hingga mereka mendapatkan hidayah dari Allah Swt, untuk melakukan Ibdah Shalat Subuh, amiin... semoga bermanfaat. akhir kata saya ucapkan 

Wassalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh..